
Ketika pertemuan terjadi sungguh suatu hal sangat mengasikkan, terjadi memori yang sangat indah!!!. Ah mungkin itu suatu hal suatu yang lumrah, setiap pertemuan itu pasti akan terjadi perpisahan!
Kuberikan yang terbaik Untuk Semua
Aku !
Secara struktural aku memang tak pernah masuk Ormas Muhamadiyah
Ibuku juga bukan anggota Aisyah
Tapi
99 aku nusuk Lambang Matahari
Emakku, Nenekku, Mamakku, bahkan Tetanggaku pun
Kukompori agar mengikuti pola pikirku
2004
Idolaku-Bapak Reformasi kucoblos
Kutahu probabilitynya kecil
Pilkada Sumbar
Ketua tim sukses Amin-Siswono jadi labuhanku
Menyesal,
100 % kutegaskan tidak
Lantas
1428 Hijriah aku berada di Kota Hujan Bogor
Tuk gapai asa di IPB
“Mambangkik Batang Tarandam” orang Minang bilang
Phonebook Siemens M55 kubuka
Bunda ketelpon
Dunsanak yang lain
Kawan sapamainan pun juga
Kutanyai kapan shalat ID
Semua menjawab Jum’at
Aku kapan
Kutemui Babe-Pak Kost
Babe bilang
Kalau Pemerintah Jum’at ya Jum’at
Kalau Pemerintah Sabtu ya tetap Jum’at
Nah, kalau begitu aku juga Jum’at
Pak kost kan Jum’at
Keluarga di Padang juga Jum’at
Lagian aku kan Muhamaddiyah
(bisik hatiku : walauku tak tahu esensi ajaran yang sebenarnya)
Subuh kubangun
Sehabis Shalat kuhubungi lagi Ummiku
Kuaturkan maaf untuk manusia yang paling kubanggakan setelah Rasulku
Kulihat Babe telah mandi
Aku juga mandi, trus pakai baju koko dan sarung
(yang dilipat Ummiku semenjak mau berangkat 1 bulan yang lalu kesini)
Secercah senyum diantara berjuta tangis menghiasi hatiku
Kami berangkat, dengan kijang jantan coklat Babe
Mesjid Al-Huriyah sepi
Kata Babe biasanya disini ada
Truz mencari Rumah Allah yang lain
Sepenjang jalan sampai ke Bogor semua Mesjid kosong
Mutar lagi, lagi, dan lagi
Akhirnya di lapangan Taman Raya Bogor ada jamaah yang melangsungkan shalat ID
Tapi,
Shalat telah usai
Khatib dah naik mimbar
Hatiku meraung
Kami pulang
Aku kecewa
Semenjak aku akil baliq
Ini yang pertama aku tak melaksanakan shalat ID
Idul Fitri maupun Idul Adha
Di masjid ataupun di lapangan
Hujan, mendung apalagi cerah
Di Pariaman or Painan
Tak pernah aku alpha
Hatiku kembali meraung
Bukan karena tak mencium tangan Ibundaku
Atau tak mencicipi ketupat lebaran Beliau
Kusadari
Iman masih setipis sutra
Shalat fardhu ada bolong
Puasa masih tingkat elementer
Tarawih hanya kadang
Ngajipun tak tahu tajwid
Tapi Yaa Rabb
Aku tak bisa bohong, atau white lie pada-Mu
Hatiku tersayat
Pilu
Idul Fitriku melayang
Aku ingin Ia kembali
Aku kesal
Kenapa mesti ada perbedaan
Kenapa ada demokrasi soal Idul Fitri-Mu
Aku tahu itu boleh
Tapi
Cukuplah yang lain
Jangan Idil Fitriku
Aku yakin, mungkin kali
Walau ku tak tahu hisab
Idul Fitri-ku telah masuk ranah politik
Aku hanya ingin menjalankan syariat islam secara standar
Meskipun secara kultural termasuk Muhammadiyah
Karena aku Rang Padang
Aku Muhammadiyah
Dan Takkan menyesali atau mau mutasi
Tapi kuhidup dalam naungan Ibu Pertiwi
Indonesiaku Tercinta
Bogor, 13 Oktober
Bagda Magrib
Aku Muhammadiyah
Literatur yang kubaca (setek)
Muhammadiyah, lahir di Yogya – Gedenya di Padang
Mau bukti
Tak usah kenal sosok Hamka, Agus Salim, atau Hatta sekalipun
Ingat reformasi
Pemilu paling demokratis yang pertama
Dimana kantong terbesar PAN
Kota Pendidikan, Serambi Mekkah, pastinya ada nama Ranah Minang