Senin, 22 Desember 2008

ANAK KU SAYANG

Muhammad Adz Dzikra Yomiko, itulah namanya lahir pada tanggal 28 April 2008, "Pariaman" itulah tempatnya kota yang juga tempat lahir papa & mamanya " Sd. Yomi Riko, ST & Eka Fitri Suriani, A.Ma. Pd.

Sabtu, 20 Desember 2008

Aku !

Secara struktural aku memang tak pernah masuk Ormas Muhamadiyah

Ibuku juga bukan anggota Aisyah

Tapi

99 aku nusuk Lambang Matahari

Emakku, Nenekku, Mamakku, bahkan Tetanggaku pun

Kukompori agar mengikuti pola pikirku

2004

Idolaku-Bapak Reformasi kucoblos

Kutahu probabilitynya kecil

Pilkada Sumbar

Ketua tim sukses Amin-Siswono jadi labuhanku

Menyesal,

100 % kutegaskan tidak

Lantas

1428 Hijriah aku berada di Kota Hujan Bogor

Tuk gapai asa di IPB

“Mambangkik Batang Tarandam” orang Minang bilang

Phonebook Siemens M55 kubuka

Bunda ketelpon

Dunsanak yang lain

Kawan sapamainan pun juga

Kutanyai kapan shalat ID

Semua menjawab Jum’at

Aku kapan

Kutemui Babe-Pak Kost

Babe bilang

Kalau Pemerintah Jum’at ya Jum’at

Kalau Pemerintah Sabtu ya tetap Jum’at

Nah, kalau begitu aku juga Jum’at

Pak kost kan Jum’at

Keluarga di Padang juga Jum’at

Lagian aku kan Muhamaddiyah

(bisik hatiku : walauku tak tahu esensi ajaran yang sebenarnya)

Subuh kubangun

Sehabis Shalat kuhubungi lagi Ummiku

Kuaturkan maaf untuk manusia yang paling kubanggakan setelah Rasulku

Kulihat Babe telah mandi

Aku juga mandi, trus pakai baju koko dan sarung

(yang dilipat Ummiku semenjak mau berangkat 1 bulan yang lalu kesini)

Secercah senyum diantara berjuta tangis menghiasi hatiku

Kami berangkat, dengan kijang jantan coklat Babe

Mesjid Al-Huriyah sepi

Kata Babe biasanya disini ada

Truz mencari Rumah Allah yang lain

Sepenjang jalan sampai ke Bogor semua Mesjid kosong

Mutar lagi, lagi, dan lagi

Akhirnya di lapangan Taman Raya Bogor ada jamaah yang melangsungkan shalat ID

Tapi,

Shalat telah usai

Khatib dah naik mimbar

Hatiku meraung

Kami pulang

Aku kecewa

Semenjak aku akil baliq

Ini yang pertama aku tak melaksanakan shalat ID

Idul Fitri maupun Idul Adha

Di masjid ataupun di lapangan

Hujan, mendung apalagi cerah

Di Pariaman or Painan

Tak pernah aku alpha

Hatiku kembali meraung

Bukan karena tak mencium tangan Ibundaku

Atau tak mencicipi ketupat lebaran Beliau

Kusadari

Iman masih setipis sutra

Shalat fardhu ada bolong

Puasa masih tingkat elementer

Tarawih hanya kadang

Ngajipun tak tahu tajwid

Tapi Yaa Rabb

Aku tak bisa bohong, atau white lie pada-Mu

Hatiku tersayat

Pilu

Idul Fitriku melayang

Aku ingin Ia kembali

Aku kesal

Kenapa mesti ada perbedaan

Kenapa ada demokrasi soal Idul Fitri-Mu

Aku tahu itu boleh

Tapi

Cukuplah yang lain

Jangan Idil Fitriku

Aku yakin, mungkin kali

Walau ku tak tahu hisab

Idul Fitri-ku telah masuk ranah politik

Aku hanya ingin menjalankan syariat islam secara standar

Meskipun secara kultural termasuk Muhammadiyah

Karena aku Rang Padang

Aku Muhammadiyah

Dan Takkan menyesali atau mau mutasi

Tapi kuhidup dalam naungan Ibu Pertiwi

Indonesiaku Tercinta

Bogor, 13 Oktober

Bagda Magrib

Kata Hati Dari Kawan Ku

Aku Muhammadiyah

Literatur yang kubaca (setek)

Muhammadiyah, lahir di Yogya – Gedenya di Padang

Mau bukti

Tak usah kenal sosok Hamka, Agus Salim, atau Hatta sekalipun

Ingat reformasi

Pemilu paling demokratis yang pertama

Dimana kantong terbesar PAN

Kota Pendidikan, Serambi Mekkah, pastinya ada nama Ranah Minang